Pertanyaan Pilihan
Diposting tanggal: 07 Maret 2014

Pertanyaan:

Assalamu Alaikum Wr. Wb..

Ustadz saya mau tanya, jika kita di madinah mengikuti mazhab Maliki atau Hanafi apakah boleh setelah kembali ke tanah air kita bermazhab Hanbali atau Syafi'i ? (Amri Latief)

Jawaban: 

Wa Alaikum Salam Wr. Wb... 

Boleh, tidak ada ketentuan bahwa kita wajib mengikuti satu mazhab saja, yang penting adalah mana yang lebih kuat dalilnya dari al-Qur’an atau hadis. Wallahu a'lam...

 


Pertanyaan:

Bagaimana hukum berboncengan dengan yang bukan muhrim, bila situasinya mendesak ? (Zuhri)

Jawaban:

Berboncengan bukan muhrim, hukumnya bisa haram, bisa mubah (boleh), bisa juga mustahab (dianjurkan/dibolehkan karena keperluan), tergantung pada niat dan situasi kondisi. Contoh situasi, hukumnya haram kalau untuk pacaran atau bersenang-senang. Mubah kalau misalnya berboncengan sesama teman satu kuliah yang tidak punya biaya untuk ke kampus dan tidak ada niat yang bukan-bukan. Mustahab, kalau misalnya seorang perempuan yang turun dari kendaraan umum, mau masuk ke pelosok desa yang jauh dan yang ada hanya ojek yang bisa mengantar, maka hukumnya mustahab untuk berboncengan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Dalilnya adalah kaidah Ushul Fiqh yang mengatakan:

اَلْحَاجَةُ قَـدْ تَـنْزِلُ مَنْزِلَةَ الضَّرُوْرَةِ

Kebutuhan itu kadang-kadang (bersifat) menempati keadaan darurat” 

Wallahu a'lam...