Sejarah IMMIM
Diposting tanggal: 13 Maret 2014

SEJARAH IMMIM

 

 

IMMIM didirikan oleh H. Fadeli Luran pada awal Januari 1964. Saat itu kekuasaan politik paling mencekam sejak proklamasi kemerdekaan. Panggung politik berada di tangan tiga komponen yaitu Sukarno sebagai agenda setter sistem politik Demokrasi Terpimpin, Angkatan Bersenjata (ABRI) dan Partai komunis Idnonesia (PKI). ABRI dan PKI saling berebut pengaruh dari Sukarno, tetapi PKI lebih memiliki peluang. Segala gagasan PKI didukung oleh Sukarno. PKI ingin mengganti Pancasila dengan  ide baru yaitu – Nasionalisme – Agama dan Komunis atau NASAKOM. Gagasan ini mereduksi sila Ke Tuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila. PKI hanya jadikan NASAKOM sebagai alat untuk mendirikan negara komunis Indonesia.  Sebab itu ide NASAKOM ditentang umat beragama, terutama umat Islam yang mayoritas dan ABRI. Melihat umat Islam sebagai penghalang utama ide PKI maka partai ini menggunakan taktik yang disebut tactics front from above and below- taktik yang mengobok-obok kaum elite dan akar rumput. Tahun 1960 partai Islam Masyumi dibubarkan karena sangat anti NASAKOM, membuat partai-partai lain tiarap tak berdaya melawan keangkuhan PKI. Pada arus bawah umat Islam, di blow up perbedaan dalam cabang-cabang (furu’iah) keagamaan seperti baca kunut, baca barazanji, mazhab, dsb. Karena cabang-cabang agama ini ada yang melaksanakannya seperti kelompok NU dan membid’ahkannya adalah kelompok Muhammadiyah dan persis Bandung. Masalah sepele itu terus diperuncing dan dikompori sehingga menimbulkan tensi di kalangan elite Islam sampai merambah pada kaum ulama. Meletuplah konflik dan perselisihan yang bukan saja antar individu anggota arus bawah,  melainkan menyentuh harga diri dan  martabat pemimpin, dan ulama organisasi. Jadilah mereka caci-mencaci, ejek-mengejek, saling melecehkan – yang pada akhirnya – ukhuwah Islamiah menganga lebar menjadi firqah-firqah  yang sulit dipertemukan. Mereka tidak sadar – bahwa ada kelompok yang mengudak dan mengail di air keruh dengan menggunakan cabang-cabang agama yang remeh-temeh itu. Konsekuensinya  sering terjadi seorang anggota Muhammadiyah enggan salat dalam masjid yang dikelola NU, demikian juga terjadi sebaliknya. Jurus yang dilakukan PKI ini melemahkan posisi umat Islam dalam arena politik. Iamenjadi silientmayority.

Firqah-firqah tersebut mengusik hati nurani Fadeli Luran walau ia hanya seorang pengusaha sukses. Beliau pun lakukan ceramah di berbagai masjid di Makassar dengan tema pokok supaya umat Islam kokohkan persatuan. Ayat yang sering diutarakan adalah Surah Ali Imran ayat 103 dan al Hujarat ayat 10.  Lebih intens beliau melakukan konsultasi dengan berbagai pimpinan ormas dan partai Islam yaitu Hafied Yusuf dari NU, Wahab Rajab dari Muhammadiyah, S.S. Mahmud dari Partai Syarikat Islam Indonesia Sulawesi Selatan. Fadeli Luran mengajak mereka agar tidak terjebak dalam permainan PKI terhadap masalah furu’iah itu. Gagasannya adalah membentuk organisasi kemasjidan, karena dalam masjid semua golongan Islam pasti menggunakannya, termasuk orang PKI yang beragama Islam. Dari diskusi dan kongko-kongko yang intens maka di tengah-tengah keganasan para intelijen PKI – dibentuklah Ikatan Masjid Mushallah Indonesia Makassar (IMMIM) tanggal 1 Januari 1964. Tujuannya adalah memakmurkan masjid apa pun golongannya dan mencegah pertengkaran berlarut-larut tentang furu’iyah. Tahun 1966 pasca runtuhnya Orde Lama, organisasi ini memperluas jaringannya ke seluruh tanah air sehingga diubah menjadi Ikatan Masjid Mushallah Indonesia Muttahidah yang juga disingkat IMMIM.

 

MOTTO IMMMIM : BERSATU DALAM AQIDAH TOLERANSI DALAM KHILAFIYAH FURU’IYAH

Kiprah IMMIM dalam dakwahnya terus menyapa umat Islam dari seluruh golongan dengan mottonya yang terkenal  – Bersatu dalam Aqidah, Toleransi Dalam Khilafiyah Furuiyah. Suatu motto yang magis agar umat Islam selalu berada dalam  bingkai persatuan (UKHUWAH).

Secara  kesejarawan masuknya Islam di Indonesia membawa berbagai aliran, dan mengkristal  pada dua golongan, yaitu  Islam Modernis dan Islam Tradisionil. Modernis menggunakan rujukan keislaman tanpa mengikuti satu mazhab, melainkan bersumberkan dari Quran dan Hadist. Sedangkan Islam tradisionil menganut mazab tertentu. Dalam hal akidah (ushuliyah), kedua  golongan Islam ini sama. Perbedaan terjadi hanya seputar cabang-cabang agama (furuiyah), seperti membaca kunut dalam salat Subuh, baca usali, jaharkan tidak menjaharkan bismillah dalam memulai salat, dsb.

Meski tiap golongan punya shibghah dan identitas masing-masing, namun aqidah tiada mengalami perbedaan yang direfleksikan dalam enam rukun iman.  Menyangkut cabang-cabang agama (furuiyah) di luar garis keimanan ushuliyah dan pokok-pokok ibadah yang sudah baku seperti salat-salat wajib, IMMIM memberikan toleransi.  IMMIM lebih mengedepankan persatuan (ukhuwah) umat daripada menguras energi untuk perdebatan laten soal khilafiyah furuiyah, mazhab dan fikih yang kontraproduktif.  Lebih baik umat Islam salat dengan baca kunut, baca usali, dan sebagainya daripada mereka tidak bersalat, atau melakukan perjudian, minum minuman keras, serta melakukan perbuatan kriminalitas lainnya

Suatu saat dua ulama besar Indonesia ketemu, yaitu Prof. Dr. Hamka (Muhammadiyah) dan K.H. Idham Khalid (NU). Ketika salat subuh, K.H. Idham Khalid menjadi imam, beliau tidak qunut. Saat ditanya mengapa tidak qunut pada hal ia tokoh NU yang penganut qunut. Beliau menjawab karena dia menghormati  Prof. Dr. Hamka yang menjadi makmun di belakang. Pada salat subuh lain, giliran Prof. Dr. Hamka menjadi imam dan di belakang ada K.H. Idham Khalid menjadi makmun. Saat itu, Prof. Dr. Hamka membaca  qunut padahal  kalangan Muhammadiyah bukan penganut qunut. Ketika ditanya, beliau menjawab bahwa ia menghormati K.H. Idham Khalid yang menjadi makmun di belakang. Alangkah indah toleransi yang dipertontonkan kedua ulama dari dua organisasi Islam Indonesia yang berbeda faham dalam berbagai cabang agama. Satu sama lain saling menghormati, masing-masing saling memberi dan masing-masing saling menerima.

Kerukunan yang diusung IMMIM dapat membuat kaum muslimin melakukan ibadah dengan aman sesuai dengan keyakinan mereka tanpa paksaan, tidak  doktrinal, dan tidak saling menghalangi atau mengganggu. Sikap yang ditampilkan akan membuahkan mahabbah Islamiyah, memelihara agar umat Islam yang berbeda paham selalu  berada dalam koridor satu barisan. Kecintaan Allah akan turun kepada kaum yang berjuang di jalan-Nya dalam satu barisan rapi dan teratur seolah-olah mereka ibarat satu bangunan yang tersusun kokoh (As-Shaff ayat 4). IMMIM juga bukan menempuh jalan poros tengah karena organisasi tidak memiliki paham tersendiri, tidak berafiliasi pada sekte Islam tertentu. Ia hanya memersepsikan diri sebagai khadam abdi umat. Organisasi lebih bermartabat dan lentur jika tampil sebagai pendamai antara kelompok-kelompok yang berbeda paham menyangkut furuiyah untuk mencari titik temu serta menghindari mencuatnya konflik dan ketegangan-ketegangan. “Sungguh orang mukmin hanya satu dalam persaudaraan, maka damaikanlah kedua saudaramu dan takwalah kamu kepada Allah supaya kamu beroleh rahmat” (Quran Surah Al-Hujarat ayat 10 ).

IMMIM menginginkan umat senantiasa dalam kondisi yang satu mengokohkan dengan lainnya. “Laksana satu tubuh,  bila menderita sakit satu anggotanya, seluruh tubuh merasakannya dengan tidak bisa tidur dan (merasakan) demam ” (Hadis Bukhari-Muslim). Prinsip inilah yang selalu didengungkan oleh pendiri IMMIM, H. Fadeli Luran.  Membangun ukhuwah demikian Allah akan menurunkan rahmat-Nya.

IMMIM memersepsikan diri sebagai organisasi kemasjidan yang independen sebab masjid sebagai basis jamaahnya,  niscaya di dalamnya ada warga Muhammadiyah, NU, Persis, Sarikat Islam, PKS, PKB, PAN, PBB, Golkar, PDIP, Demokrat, Al-Wahdah dan lain-lain. IMMIM berfungsi sebagai   pembangun kehidupan dan tatanan baru berdasar prinsip-prinsip tasamuh (toleransi) karena ranahnya secara mendasar mengakui adanya kehidupan  kebinekaan atau kemajemukan itu. Ia harus tetap berada dalam  mainstream dan identitas sebagai wadah, tidak beranjak menjadi aliran tersendiri.  IMMIM akan kehilangan identitas bila bergeser dari fungsinya   sebagai media dan pengusung solidaritas, nilai-nilai persaudaraan, kedamaian, kehidupan harmoni di tengah-tengah aliran-aliran Islam yang pluralis tersebut. Bila ada pengurus IMMIM menjadi anggota salah satu organisasi Islam, keanggotaannya adalah pribadi. Dalam posisinya sebagai pengurus IMMIM, baju organisasi Islam harus dilepas. IMMIM tidak dapat diseret ke dalam organisasi tertentu. Tugas mubalig IMMIM pun supaya menghindari khilafiyah golongan dan lebih menekankan pada jamaah agar memakmurkan masjid, memperkuat iman, menggemarkan ibadah dan amal saleh serta membina akhlakul karimah.

Ukhuwah Islamiyah atau kerukunan internal umat Islam dalam bingkai persamaan akidah dan toleransi dalam furuiyah sebagai motto IMMIM akan mengantar pada kemantapan dan pemahaman secara benar bila toleransi dilandasi oleh :

a.       Konsep tanawwu’ al-‘ibadah – yakni mengantar pada pengakuan terhadap keragaman yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad S.a.w. dalam bidang furuiyah sehingga semua diakui kebenaraannya.

b.   Al-mukhti’ fi al-ijtihad lahu ajr,  yang salah pun dalam berijtihad mendapat pahala, dan yang benar dan salah bukan ditetapkan oleh makhluk, melainkan menjadi otoritas Allah S.w.t.

c.  La  hukma lillah qabla ijtihad al-mujtahid,  Allah belum menetapkan suatu hukum sebelum upaya ijtihad seorang mujtahid sehingga hasil ijtihadnya itu yang menjadi ketetapan hukum Allah bagi setiap mujtahid, walaupun timbul perbedaan-perbedaan.

Kunci mengantar ukhuwah Islamiyah dalam kehidupan nyata bukan sekadar pemaparan segi-segi persamaan akidah dan toleransi terhadap perbedaan-perbedaan. Letaknya pada langkah bersama yang diimplementasikan oleh para elite agama dan mubalig yang berbeda dalam furuiyah. Ditopang oleh ketulusan dan tenggang rasa mereka mengintrepretasikan makna esensial tentang persatuan umat Islam itu.

 

            Untuk lebih lengkap dan utuh menyimak IMMIM disarankan membaca buka sejarah IMMIM dengan judul KIPRAH IMMIM MEMBANGUN UMAT edisi kedua tahun 2013.